-->

Upaya Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Matematika pada Materi Mengukur Jenis-Jenis Sudut Melalui Model STAD pada Peserta didik Kelas VI SD Negeri Wanareja 02


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Dalam dunia pendidikan khususnya matematika terdapat suatu paradigma yang bersumber dari teori tabula rasa John Looke (Lie, 2005:2) mengatakan bahwa pemikiran seorang peserta didik di identikan dengan kertas kosong yang putih bersih dan siap menunggu coretan-coretan dari gurunya. Dengan kata lain, otak seorang peserta didik adalah ibarat botol kosong yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan guru. Berdasarkan asumsi ini, banyak guru melakukan proses pembelajaran dengan konsep bahwa belajar mengajar adalah proses memindahkan pengetahuan dari guru ke peserta didik seperti mengisi botol kosong dengan pengetahuan.

Hal tersebut tidak relevan pada saat ini, karena tuntutan dalam dunia pendidikan saat ini sudah banyak mengalami perubahan, paradigma lama tersebut tidak bisa dipergunakan. Teori, penelitian, dan pelaksanaan proses pembelajaran membuktikan bahwa guru sudah harus mengubah paradigma pengajaran. Paradigma baru dalam konteks pembelajaran matematika sangat dibutuhkan, yakni suatu kondisi pembelajaran yang menuntut keaktifan peserta didik dan kefektifan peserta didik dan kefaktualan guru dalam memfasilitasi peserta didik dalam proses pembelajaran.

Dalam meningkatkan mutu pendidikan salah satunya adalah dengan menerapkan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang diajarkan serta dengan tingkat usia anak didik. Belajar aktif adalah salah satu solusi yang dapat diterapkan dalam proses belajar matematika.

Pembelajaran Matematika tidak lagi mengutamakan pada penyerapan melalui pencapaian informasi, tetapi lebih mengutamakan pada pengembangan kemampuan dan pemrosesan informasi. Untuk itu aktivitas peserta didik perlu ditingkatkan melalui latihan-latihan atau tugas matematika dengan bekerja kelompok kecil dan menjelaskan ide-ide kepada orang lain. (Hartoyo, 2000: 24).

Seorang guru yang memiliki tanggungjawab dalam hal pengembangan perangkat pembelajaran, sehingga harus kreatif dalam menerapkan dan mengembangkan model pembelajaran atau metode mengajar.

Rendahnya hasil pembelajaran matematika di Indonesia, salah satunya disebabkan oleh rendahnya kualitas pembelajaran yang diselenggarakan guru di sekolah. Rendahnya kualitas pembelajaran ini, diakibatkan oleh bermacam-macam sebab, salah satu di antaranya kurang tepatnya pendekatan pembelajaran yang dipilih guru dalam pengembangan silabus dan skenario pembelajaran yang dirumuskan, yang bermuara pada kuang efektifnya pembelajaran yang dikembangkan di kelas.

Di SD Negeri Wanareja 02 UPT Disdikpora Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap, tempat penulis mengajar, matematika masih merupakan “momok” bagi sebagian peserta didik. Hal tersebut dikarenakan masih banyak peserta didik yang kurang mampu menyerap dengan sempurna pembelajaran matematika, sehingga minat dan motivasi peserta didik terhadap matematika ini tidak begitu menggembirakan.

Seperti pada materi pelajaran matematika mengenai mengukur jenis-jenis sudut, sebagian besar peserta didik masih belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 75. Pada materi ini dari 26 peserta didik, hanya 7 peserta didik yang sudah memcapai kirteria ketuntasan minimal (KKM) atau dengan kata lain baru 27 % peserta didik kelas VI  SD Negeri Wanareja 02 UPT Disdikpora Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap yang mampu mencapai KKM.

Ketidaktercapaian ketuntasan belajar ini karena peserta didik kurang mampu menyelesaikan permasalahan sesuai tahapan penyelesaian soal berbentuk masalah. Selain itu guru senantiasa dikejar oleh target waktu untuk menyelesaikan setiap indikator tanpa memperhatikan kompetensi yang dimiliki peserta didiknya. Pola pengajaran yang selama ini digunakan belum mampu membantu peserta didik dalam menyelesaikan soal-soal berbentuk masalah, sehingga menurut penulis, mengaktifkan peserta didik dalam belajar, memotivasi peserta didik untuk mengemukakan ide  dan pendapat mereka, dan memberanikan peserta didik untuk bertanya pada guru jika mereka belum paham terhadap materi yang disajikan perlu ditumbuh kembangkan.

Berdaasarkan identifikasi masalah di atas, maka didapatkan beberapa data oleh penulis dan memunculkan asumsi faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya pemahaman peserta didik kelas VI SD Negeri Wanareja 02 UPT Disdikpora Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap pada materi mengukur jenis-jenis sudut yang jauh dari batas kriteria ketuntasan minimal  (KKM), anatara lain :

  1. Model pembelajran yang kurang menarik dan tidak dapat memberikan kesempatan yang luas bagi peserta didik untuk memahami matreri yang dipelajari dikarenakan selama ini pembelajaran hanya berfokus pada guru (teacher centered).
  2. Metode pembelajaran yang monoton menjadikan peserta didik merasa jenuh dan cenderung untuk pasif dalam menerima pembelajaran.

Hal tersebut di atas, mememerlukan langkah-langkah yang mendorong partisipasi aktif dari peserta didik. Untuk itu perlu ada metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara langsung dalam pembelajaran. Adapun metode yang dimaksud adalah metode pembelajaan kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah suatu pengajaran yang melibatkan peserta didik bekerja dalam kelompok-kelompok untuk menetapkan tujuan bersama. Felder, (1994: 2).

Atas dasar pertimbangan kedua faktor permasalahan tersebut di atas, maka penulis melakukan satu bentuk perubahan dalam model pembelajaran dan metode pembelajarannya yang kami terapkan dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas pada materi mengukur besar sudut berdasarkan sifat dan jenisnya dengan menggunakan model STAD (Student Teams Achievement Division)

Berdasarkan paparan tersebut diatas maka peneliti ingin mencoba melakukan penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar  Matematika pada Materi Mengukur Jenis-Jenis Sudut Melalui Model STAD  pada Peserta didik Kelas VI SD Negeri Wanareja 02 ”.

 

  1. Rumusan Masalah         

Mencermati latar belakang pembelajaran di SD Negeri Wanareja 02 di atas, maka dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah peningkatan Hasil Belajar Matematika pada Materi Mengukur Jenis-Jenis Sudut pada Peserta didik Kelas VI SD Negeri Wanareja 02 dengan diterapkannya Model STAD?
  2. Bagaimanakah pengaruh Model STAD terhadap motivasi belajar peserta didik pada pelajaran Matematika pada Materi Mengukur Jenis-Jenis Sudut pada Peserta didik Kelas VI SD Negeri Wanareja 02?

 

  1. Batasan Masalah

Untuk lebih spesifisikasi dalam penelitian maka peneliti membatasi kajian pada: 

  1. Konsep Matematika yang dalam penelitian ini adalah pada Kompetensi mengukur besar sudut yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari di rumah, sekolah, dan tempat bermain dengan satuan tidak baku dan satuan derajat termasuk sudut antara arah mata angin dan sudut antara dua jarum jam dan indikator mengukur besar sudut berdasarkan sifat dan jenisnya.
  2. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model STAD (Student Teams Achievement Division;).

 

 

 

  1. Penelitian ini dilakukan pada peserta didik Kelas VI (Enam) SD Negeri Wanareja 02, UPT Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap. 

 

  1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mengetahui peningkatan Hasil Belajar peserta didik setelah diterapkannya Model STAD (Student Teams Achievement Division).
  2. Mengetahui pengaruh motivasi belajar peserta didik setelah diterapkan Model STAD (Student Teams Achievement Division).

 

  1. Manfaat Penelitian 

Penelitian ini diharapkan bermanfaat:

  1. Bagi peserta didik untuk meningkatkan pemahaman konsep mengukur jenis-jenis sudut dengan Model STAD (Student Teams Achievement Division).
  2. Bagi guru dapat memberikan tambahan pengayaan cara mengajar dengan bantuan Model STAD (Student Teams Achievement Division) sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
  3. Bagi lembaga dapat dijadikan sebagai bahan masukan informasi tentang salah satu alternatif cara pembelajaran Matematika pada peserta didik dengan pemanfaatan model pengajaran dalam mencapai tujuan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
LihatTutupKomentar