-->

PTK PAUD/TK BAB 1





BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini, salah satu program pemerintah dalam dunia pendidikan adalah dengan mendirikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pendidikan anak usia dini (early childhood education) merupakan suatu disiplin ilmu pendidikan yang secara khusus memperhatikan, menelaah, dan mengembangkan berbagai interaksi edukatif antara anak usia dini dengan pendidik untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan potensi anak secara optimal (Wiyani dan Banawi, 2012:46). Dengan kata lain, PAUD merupakan pondasi dasar dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang sangat fundamental, juga sebagai kerangka dasar terbentuknya dan berkembangnya dasar-dasar pengetahuan, sikap dan keterampilan pada anak.

PAUD menjadi sangat penting mengingat potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seseorang anak terbentuk pada rentang usia ini. Pendidikan anak usia dini diorientasikan pada pemenuhan kebutuhan anak, yaitu pendidikan yang berdasarkan pada minat, kebutuhan dan kemampuan anak. Peran pendidik sangat penting, pendidik harus memfasilitasi aktivitas anak dengan material yang beragam. Pendidik dalam hal ini tidak hanya terbatas pada guru, tetapi juga orang tua dan lingkungan. Seorang anak membutuhkan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.

Pendidikan anak usia dini merupakan investasi jangka panjang bagi anak dalam mengikuti tahap selanjutnya. Setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda dan potensi berbeda-beda namun aktif, memiliki kelebihan, bakat dan minat sendiri, serta memiliki ciri yang khas dan tidak sama dengan orang dewasa.

Penyelenggaraan PAUD, dapat meningkatkan indeks pembangunan manusia, menyiapkan anak untuk sekolah, meningkatkan mutu pendidikan, mengurangi angka buta huruf muda serta memperbaiki derajat kesehatan dan gizi anak balita Fasli Jalal (dalam Soeprijanto, 2011:3). Pendidikan Anak Usia Dini selain memberikan bekal kesiapan untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya, juga memberikan kesiapan anak agar tumbuh dan berkembang menjadi anak yang cerdas, baik cerdas emosinya maupun spiritualnya bahkan

mempunyai karakter atau sifat-sifat yang baik.

Menurut Montessori masa peka adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik maupun psikis. Pada masa ini anak telah siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 54). Masa peka pada setiap anak berbeda, hal ini seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual. Masa ini juga merupakan masa yang dapat dijadikan peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, bahasa, gerak-motorik, dan sosial emosional.

Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini tersebut perlu difasilitasi dengan baik agar tumbuh dan berkembang secara optimal. Perkembangan secara optimal pada masa kanak-kanak memiliki dampak terhadap perkembangan kemampuan untuk belajar dimasa yang akan datang. Dengan demikian, agar pertumbuhan dan perkembangan tercapai secara optimal, maka dibutuhkan situasi dan kondisi yang kondusif saat memberikan stimulasi dan upaya-upaya pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak yang berbeda satu dengan lainnya. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan salah satu wahana yang dapat memfasilitasi perkembangan yang sedang terjadi pada anak. PAUD adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan memberi kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan anak. PAUD juga dapat mengembangkan potensi anak secara komprehensif. Hal ini berarti bahwa anak tidak hanya dicerdaskakn pada aspek kognitifnya saja, akan tetapi juga cerdas pada aspek-aspek yang lain dalam kehidupannya.

PAUD sebaiknya mengacu pada prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain karena pada dasarnya dunia anak adalah dunia bermain. Proses belajar harus menyenangkan agar anak tidak merasa bosan, kelelahan, dan kehilangan minat belajarnya. Orang tua ataupun pendidik diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang menyenangkan agar anak dapat bereksplorasi langsung dengan lingkungan. Hal tersebut membuat anak mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman belajar dari lingkungan melalui cara mengamati, meniru, dan bereksperimen sehingga melibatkan seluruh potensi dan kecerdasannya.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan tentang perkembangan anak, maka orang semakin menyadari pentingnya memberi stimulus sejak dini pada anak-anak. Kemampuan yang harus dikembangkan antaran lain perkembangan kemampuan berbahasa. Pengembangan berbahasa banyak macamnya, misalnya: kemampuan berbahasa anak dalam bercerita, kemampuan berbahasa anak dalam membaca, kemampuan berbahasa anak dalam menerima bahasa atau mendengarkan cerita.

Perkembangan bahasa anak usia dini terbagi dalam empat aspek yaitu, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dari keempat aspek tersebut, kemampuan menyimak merupakan kemampuan paling awal sebelum anak bisa berbicara, membaca, dan menulis. Oleh karena itu, kemampuan menyimak sangat penting dalam aspek perkembangan bahasa.

Apabila anak terbiasa menyimak hal-hal yang baik dan positif, maka anak akan mendapatkan berbagai informasi sehingga memudahkan untuk mengembangkan aspek-aspek bahasa yang lainnya seperti berbicara, membaca dan menulis.

Hasil kajian Ramkin (Tadkiroatun Musfiroh, 2008: 22) menunjukkan bahwa 45% waktu anak digunakan untuk menyimak. Setelah itu 30% anak digunakan untuk berbicara, 16% untuk membaca, dan 16% untuk menulis. Dari kajian tersebut menunjukkan bahwa menyimak berfungsi sentral dalam kehidupan anak. Menyimak merupakan aktivitas yang sangat mendasar untuk dapat memiliki banyak pengetahuan. Anak dapat berbahasa dengan baik apabila memiliki kemampuan menyimak yang baik. Kemampuan menyimak perlu distimulasi sejak dini agar perkembangan bahasa anak berkembang secara optimal sebagai modal untuk mengembangkan aspek perkembangan yang lain.

Sebagian besar waktu simak anak digunakan untuk menyimak cerita. Menurut Scott Russel Sanders (Tadkiroatun Musfiroh, 2008: 22) ada beberapa alasan penting mengapa anak perlu menyimak cerita. Salah satunya karena menyimak cerita merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi anak. Anak dapat lebih bergairah untuk belajar karena pada dasarnya anak senang mendengarkan cerita. Anak juga dapat memperoleh informasi melalui cerita. Selain itu anak dapat memperoleh, mempelajari, dan menyikapi persoalan kehidupan manusia melalui cerita.

Bercerita merupakan metode yang sesuai dengan karakteristik anak Taman Kanak-kanak. Menurut Moeslichatun (Bachtiar S Bachri, 2005: 10) bercerita merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar bagi anak yang disampaikan secara lisan. Bercerita juga dapat mengembangkan kemampuan berbahasa melalui pendengaran kemudian menceritakannya kembali dengan tujuan melatih keterampilan anak untuk menyampaikan ide dalam bentuk lisan.

Oleh karena itu bercerita merupakan metode dan materi yang dapat diintregasikan dengan keterampilan bahasa lain, yakni berbicara, membaca, dan menulis. Ketertarikan anak dalam menyimak cerita tidak dapat dilepaskan dari kemampuan guru dalam menyajikan cerita untuk anak. Kemampuan guru yang menjadi tolak ukur kebermaknaan cerita. Cerita tidak akan berarti apa-apa untuk anak bahkan untuk mendengarkannya saja mungkin tidak tertarik jika tidak dibantu oleh strategi guru.

Cerita dapat dilakukan dengan berbagai metode. Metode yang paling sederhana dan menarik adalah metode cerita bergambar. Metode bercerita dengan gambar merupakan salah satu cara yang paling mendasar untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan membina hubungan interaksi dengan anak-anak. Pada usia anak-anak, kemampuan bahasa kata (bahasa lisan) belum cukup dikuasainya, dan bahasa tulisan pun masih dalam proses, tetapi anak sudah mempunyai kemampuan bahasa rupa (bahasa gambar). Melalui seluruh kemampuan yang dimilikinya, yaitu perpaduan antara bahasa kata dan bahasa gambar, anak jadi mengerti apa yang dikatakan orang lain kepadanya. Ada beberapa alasan mengapa penulis menggunakan metode cerita bergambar diantaranya adalah : Memudahkan anak untuk bercerita, Lebih menarik minat anak, dan anak lebih menghayati apabila cerita itu menggunakan gambar.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan dalam kegiatan menyimak dan bercerita di Kelompok Bermaian (KB) ................ Desa ................. Kecamatan .............., kemampuan berbahasa anak dalam kegiatan menyimak dan bercerita belum berkembang secara optimal. Hal ini dapat dilihat pada saat menyimak cerita, anak terlihat tidak tertarik pada cerita yang disampaikan oleh guru. Anak cenderung membagi perhatiannya pada kegiatan lain yang lebih menarik. Anak lebih memilih berbicara sendiri bahkan beberapa anak terlihat asyik ngobrol dengan teman disampingnya dan tidak mendengarkan cerita yang disampaikan oleh guru. Masih banyak ditemukan anak yang belum bisa menjawab pertanyaan guru terkait dengan cerita. Anak masih kesulitan menceritakan kembali isi cerita. Pada saat bercerita, guru belum menguasai teknik-teknik yang dapat digunakan untuk menghidupkan suasana bercerita. Guru bercerita seperti menasehati atau memberikan informasi kepada anak.

Faktor penyebab lain adalah keterbatasan alat peraga yang digunakan dalam kegiatan menyimak dan bercerita. Pada kenyataannya, di Kelompok Bermaian (KB) ................ Desa ................. Kecamatan .............. belum terdapat

berbagai macam alat peraga yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam bercerita. Guru tidak pernah menggunakan alat peraga sehingga cerita kurang menarik dan menyenangkan untuk anak. Guru juga belum pernah memanfaatkan metode cerita bergambar sebagai alat bantu saat bercerita. Dengan demikian dalam kegiatan menyimak dan bercerita untuk anak usia dini, guru dapat menggunakan cerita bergambar. Melalui metode cerita bergambar, diharapkan anak akan tertarik dalam menyimak cerita sehingga kemampuan menyimak dan bercerita akan berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Berdasarkan paparan di atas cukup beralasan jika penelitian ini dilakukan di Kelompok Bermain (KB) ................ Desa ................. Kecamatan ...............

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan pengamatan dan penelitian, masalah yang teridentifikasi yaitu:

a. Sebagian besar anak tidak tertarik saat menyimak cerita. Anak cenderung membagi perhatiannya pada kegiatan lain yang lebih menarik.

b. Sebagian besar anak mengalami kesulitan menjawab pertanyaan dan menceritakan kembali isi cerita.

c. Keterbatasan media yang dapat digunakan dalam kegiatan menyimak dan bercerita.

d. Guru belum memanfaatkan metode cerita bergambar dalam kegiatan menyimak dan bercerita.

e. Guru belum menguasai teknik-teknik dalam bercerita.

f. Kurangnya metode pembelajaran dalam menyimak dan bercerita yang mudah dan menarik bagi anak.

2. Analisis Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut maka, peneliti menganalisis kegiatan menyimak dan bercerita belum berhasil karena :

a. Cerita yang disampaikan peneliti kurang menarik.

b. Peneliti belum menguasai teknik-teknik dalam bercerita.

c. Peneliti kurang mengunakan alat peraga secara optimal.

d. Kurangnya metode pembelajaran kemampuan menyimak dan bercerita yang mudah dan menarik bagi anak

e. Peneliti belum memanfaatkan metode cerita bergambar dala kegiatan menyimak dan bercerita.

f. Kurang memberikan kesempatan kepada anak untuk berperan aktif dalam pembelajaran

3. Batasan Masalah

Dari masalah-masalah yang dianalisis, masalah yang dipilih oleh peneliti untuk melakukan perbaikan pembelajaran anak kelompok B ..................... Desa ................. Kecamatan .............. Tahun Pelajaran 20..../20... yaitu :

Kemampuan bebahasa anak dalam kegiatan menyimak dan bercerita yang masih rendah karena menurut peneliti ini merupakan masalah yang paling pokok harus segera diselesaikan

Dengan memperhatikan akar masalah di atas dan atas saran supervisor maka alternatif pemecahan masalah yang dipilih adalah dengan metode cerita bergambar. Melalui media atau model penyajian pembelajaran ini diharapkan:

a. Kemampuan berbahasa melalui kegiatan menyimak dan bercerita meningkat.

b. Anak dapat tertarik dan mau berperan aktif dalam proses pembelajaran sehingga anak dapat menyimak dan bercerita dengan baik.

c. Anak dapat mengembangkan kemampuan berbahasa melalui pendengaran kemudian menceritakannya kembali dengan tujuan melatih keterampilan anak untuk menyampaikan ide dalam bentuk lisan.

d. Memudahkan anak untuk bercerita dan anak lebih menghayati apabila cerita itu menggunakan gambar

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dalam penelitian ini dirumuskan masalah sebagai berikut :

“Bagaimana cara meningkatkan kemampuan berbahasa melalui kegiatan menyimak dan bercerita dengan metode cerita bergambar pada ..................... Kelompok B Desa ................. Kecamatan .............. Kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 20..../20...?”

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka dapat dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut.

1. Tujuan Umum :

a. Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak melalui kegiatan menyimak dan bercerita.

b. Meningkatkan kemampuan profesional sebagai guru PAUD.

2. Tujuan khusus

Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa di kelompok B ..................... Desa ................. Kecamatan .............. Tahun Pelajaran 20..../20... dalam kegiatan menyimak dan bercerita dengan metode cerita bergambar yaitu :

a. Kemampuan berbahasa melalui kegiatan menyimak dan bercerita meningkat.

b. Anak dapat tertarik dan mau berperan aktif dalam proses pembelajaran sehingga anak dapat menyimak dan bercerita dengan baik.

c. Anak dapat mengembangkan kemampuan berbahasa melalui pendengaran kemudian menceritakannya kembali dengan tujuan melatih keterampilan anak untuk menyampaikan ide dalam bentuk lisan.

d. Memudahkan anak untuk bercerita dan anak lebih menghayati apabila cerita itu menggunakan gambar.

D. Manfaat Penelitian

Sesuai dengan tujuan, hasil penelitian diharapkan mampu memberikan kontribusi yang baik bagi siswa, guru dan peneliti dalam memperbaiki proses pembelajaran berbahasa melalui kegiatan menyimak dan bercerita dengan metode cerita bergambar dikelompok B yaitu :

1. Bagi anak.

a. Meningkatkan kemampuan berbahasa.

b. Meningkatkan kemampuan menyimak dan bercerita.

c. Memudahkan anak untuk bercerita.

2. Bagi Guru.

a. Meningkatkan pengetahuan guru dalam kemampuan berbahasa anak melalui kegiatan menyimak dan bercerita dengan metode cerita bergambar.

b. Meningkatkan keterampilan guru dalam menyediakan media dan metode pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

b. Menambah khasanah keilmuan, berfikir kreatif dan inovatif dalam pendidikan.

c. Meningkatkan minat untuk selalu melakukan penelitian.

d. Meningkatkan kemampuan profesional sebagai guru PAUD.

3. Bagi Sekolah.

a. Kemampuan guru dalam melakukan PTK dengan berbagai strategi perbaikan pembelajaran, diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan secara optimal dan hasilnya bisa disebarluaskan ke sekolah lain.

b. Menambah ketersedianan sarana dan prasarana pembelajaran karena guru selalu menyedian media pembelajaran dalam setiap kegiatan pengembangan anak dengan berbagai media.

c. Pelaksanaan kurikulum lebih intensif.

d. Meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada Sekolah, sehingga berpengaruh kepada kualitas dan kuantitas anak didik.

LihatTutupKomentar